STRATEGI PENENTUAN HARGA

STRATEGI PENENTUAN HARGA


Pertanyaan Pemantik

Perhatikan tayangan video di bawah ini:


Berdasarkan tayangan di atas, jawablah pertanyaan berikut:

Pengertian Strategi Harga 

Harga merupakan salah satu unsur bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan dan unsur-unsur lainnya yang memerlukan biaya. Harga adalah unsur program pemasaran yang paling mudah disesuaikan berdasarkan karakteristik produk, saluran distribusi dan promosi. Harga juga mempresentasikan posisi nilai oleh perusahaan kepada pasar tentang produk atau merknya. Harga juga merupakan aspek penting dalam kegiatan marketing mix, mengingat harga sebagai penentu laku tidaknya suatu produk. Kesalahan dalam menentukan harga akan berakibat fatal terhadap produk yang ditawarkan.   

Tujuan Penentuan Harga 

  1. Untuk Bertahan Hidup. Penentuan harga dimaksudkan agar produk atau jasa yang ditawarkan tetap eksis di pasar. 
  2. Untuk Memaksimalkan Laba. Penentuan harga dimaksudkan untuk meningkatkan penjualan sehingga keuntungan yang didapatkan juga meningkat.  
  3. Untuk Memperbesar Market Share. Harga yang murah diharapkan dapat meningkatkan jumlah pelanggan dan mengalihkan perhatian pelanggan pesaing. 
  4. Mutu Produk.  Harga dapat memproyeksikan mutu dan kualitas suatu produk. 
  5. Karena Pesaing, Penentuan harga yang ditawarkan disarankan tidak melebihi harga pesaing. 
Bank atau lembaga keuangan harus memperhatikan banyak faktor dalam menentukan kebijakan penetapan harganya. Berikut ada enam prosedur dalam menentukan kebijakan penetapan harga, yaitu memilih tujuan penetapan harga, menentukan permintaan, memperkirakan biaya, menganalisa biaya, harga dan tawaran pesaing, memilih metode penetapan harga, serta memilih harga akhir.

Metode Penentuan Harga 

Bank Penentuan harga dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yang sesuai dengan tujuan perusahaan. Berikut metode-metode yaang digunakan dalam menetapkan harga.
  1. Penentuan Harga Berdasarkan Pelanggan. Harga dibedakan berdasarkan jenis nasabah utama (primer) atau nasabah biasa (sekunder). 
  2. Penentuan Harga Berdasarkan Bentuk Produk.  Harga ditentukan berdasarkan bentuk produk atau kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh suatu produk, misalnya untuk kartu kredit ada master card dan ada visa card. 
  3. Penentuan Harga Berdasarkan Tempat.   Harga yang ditentukan berdasarkan lokasi cabang bank di mana produk atau jasa ditawarkan. 
  4. Penentuan Harga Berdasarkan Waktu.  Harga yang ditentukan berdasarkan periode atau masa tertentu dapat berupa jam, hari, minguan, atau bulanan. 
Penetapan harga untuk produk baru sebagai berikut: 
  1. Market Skimming Pricing. Harga awal produk ditetapkan dengan nilai setinggi-tingginya untuk menunjukkan kualitas produk yang baik. 
  2. Market Penetration Pricing. Harga ditetapkan serendah mungkin untuk menguasai pasar.

Strategi Penetapan Harga 

Penetapan harga barang atau jasa merupakan suatu strategi yang paling penting bagi perusahaan untuk menghadapi sengitnya persaingan dan rendahnya pertumbuhan penjualan di pasar. Selain itu penentuan harga juga bertujuan untuk memantapkan posisi perusahaan di pasar dan memanfaatkan peluang. Harga berpengaruh terhadap kinerja keuangan dan persepsi pembeli dalam memilih suatu produk. Harga menjadi suatu ukuran tentang kualitas produk apabila pelanggan sulit mengevaluasi produk-produk yang kompleks. Masalah penetapan harga ini, tertuang dalam UULPM Pasal 5 dan PUTS, yaitu sebagai berikut:
  1. Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya untuk menetapkan harga atas suatu barang dan atau jasa yang harus dibayar oleh konsumen atau pelanggan pada dasar bersangkutan yang sama. 
  2. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 tidak berlaku bagi: a. Suatu prjanjian yang dibuat dalam suatu usaha patungan atau, b. suatu perjanjian yang didasarkan undang-undang yang berlaku. 

Pemasaran Bank 

Pemasaran merupakan salah satu kegiatan dalam perekonomian dan membantu menciptakan nilai ekonomi. Sedangkan nilai ekonomi akan menentukan harga barang dan jasa bagi konsumen. Bank yang memberikan layanan jasa keuangan juga memerlukan strategi pemasaran dalam pemasaran jasanya. Perkembangan teknologi berkorelasi positif dengan perkembangan dunia perbankan. Proses pelayanan nasabah pun menjadi lebih efisien. Contohnya saat ini mentrasfer uang sangat mudah dilakukan dengan sistem online komputer, padahal sebelumnya untuk mengirim uang dari satu bank ke bank lainnya memerlukan waktu berhari-hari. Di sisi lain, saat ini melakukan penarikan uang tidak perlu dilakukan ke bank tapi cukup menggunakan mesin ATM. Dalam memasarkan jasanya, bank menempuh cara-cara dibawah ini untuk mencapai sasarannya: 
  1. Penciptaan produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan nasabahnya. 
  2. Pemberian nilai lebih terhadap produk yang ditawarkan. 
  3. Penciptaan produk yang memberikan keuntungan dan keamanan terhadap produknya.
  4. Pemberian informasi yang sangat dibutuhkan nasabah dalam hal keuangan. 
  5. Pemberian layanan yang maksimal mulai dari calon nasabah menjadi nasabah. 
  6. Melakukan promosi guna menarik minat konsumen untuk menjadi nasabah bank. 
  7. Mempertahankan nasabah yang lama dan berusaha mencari nasabah yang baru dengan melihat kuantitas dan kualitasnya. 
Setiap usaha, baik yang bersifat profit atau sosial membutuhkan kegiatan pemasaran. Pemasaran penting dilakukan dengan tujuan memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen terhadap suatu produk atau jasa. Pemasaran juga dilakukan untuk menghadapi peningkatan jumlah pesaing yang semakin bertambah seiring berjalannya waktu. 

Metode dan Strategi untuk Menentukan Harga Jual

Seiring berjalannya waktu, menentukan harga jual suatu produk akan semakin memiliki banyak pertimbangan. Kali ini Cakap akan mengajak kamu berkenalan dengan 12 metode dan strategi untuk menentukan harga jual yang bisa kamu pertimbangkan. 

1. Penetration Pricing 

Merupakan strategi di mana pelaku bisnis menetapkan harga yang jauh lebih mudah dari kompetitor untuk menarik pelanggan dan membangun reputasi. Seperti namanya, metode ini biasa digunakan ketika bisnismu baru memasuki pasar. 

2. Skimming Pricing

Biasa digunakan untuk produk berbau teknologi yang baru atau produk “kekinian” dan musiman. Strategi ini dimulai dengan menerapkan harga tinggi pada awal kemunculan produk dan kemudian menurunkan harganya secara perlahan ketika produk sudah tidak relevan. 

3. High-Low Pricing

Mirip dengan Skimming, tetapi penurunan harga dalam High-Low Pricing dilakukan secara drastis, bukan perlahan. High-low Pricing biasanya digunakan untuk produk musiman, yang ketika musimnya berlalu, penjual banting harga dengan memberi diskon besar-besaran. 

4. Premium Pricing

Premium Pricing dilakukan dengan menetapkan harga yang lebih tinggi dari pasaran untuk membangun kesan eksklusif. Bisa digunakan untuk produk fashion dan teknologi yang memang menawarkan kualitas dan pelayanan lebih untuk target market yang menyukai hal tersebut. 

5. Psychological Pricing

Metode ini menggunakan trik yang mempermainkan psikologi pembeli dengan mengubah harga, kemasan, atau penempatan produk. Misalnya dengan menuliskan harga senilai Rp999.000 alih-alih Rp1.000.000 atau “diskon 50% untuk pembelian produk kedua”. 

6. Bundle Pricing

Bundle Pricing adalah cara menentukan harga dengan menawarkan paket pembelian yang berisi dua atau lebih produk dalam satu harga. Hal ini dilakukan untuk membuat pembeli membeli lebih banyak produk atau menambah pembelian mereka. Toko ritel dan restoran termasuk yang sering menggunakan strategi ini. 

7. Competitive Pricing

Menentukan harga dengan cara ini cocok digunakan di e-commerce di mana pembeli dengan mudah membandingkan harga suatu produk. Competitive Pricing dilakukan dengan mempertimbangkan kompetitor dan harga pasar, di mana menjual sedikit di bawah harga pasar mungkin akan menarik pelanggan. 

8. Cost-plus Pricing

Cost-plus Pricing adalah cara menentukan harga produk dengan menjumlahkan modal dan dengan persentase tertentu. Metode ini terbilang “basic” karena termasuk dalam rumus dasar menentukan harga jual tanpa mempertimbangkan faktor-faktor eksternal. 

9. Dynamic Pricing

Penetapan harga dengan Dynamic Pricing adalah menyesuaikan permintaan pasar dalam menentukan harga. Industri yang menggunakan strategi ini di antaranya perhotelan dan penerbangan yang menetapkan harga berbeda setiap hari untuk memaksimalkan keuntungan. 

10. Economy Pricing

Economy Pricing dilakukan dengan menetapkan harga ekonomis secara konsisten dengan tujuan menghasilkan keuntungan dari volume penjualan yang tinggi. Strategi ini biasa dilakukan oleh sektor barang komoditas yang biaya produksinya rendah. 

11. Freemium Pricing

Pernahkah kamu men-download suatu aplikasi secara gratis namun kemudian ditawarkan berlangganan untuk mengakses lebih banyak fitur? Strategi inilah yang dilakukan dalam Freemium Pricing, di mana pelanggan yang merasa produknya bermanfaat akan tertarik untuk membayar. 

12. Loss-leader Pricing

Strategi menetapkan harga rendah untuk produk-produk tertentu untuk membuat pelanggan membeli produk tersebut meskipun awalnya tidak berencana membeli. Supermarket sering menggunakan cara ini untuk menarik lebih banyak pelanggan pada hari tertentu. 

Soal Diskusi


Contoh Kasus Cara Menentukan Harga Jual

Apakah penjelasan mengenai cara menghitung harga jual dan cara menentukan harga jual di atas sudah memberimu pencerahan? Kali ini kita akan lebih lanjut membahas cara menghitung harga jual untuk beberapa contoh kasus. 

1. Cara menentukan harga jual makanan

Metode atau strategi menentukan harga jual produk makanan yang bisa kamu lakukan antara lain adalah dengan Bundle Pricing dan Psychological Pricing. Contoh:

Sebuah toko menawarkan berbagai pilihan makanan dan minuman ringan dan akan menerapkan Bundle Pricing dengan memaketkan minuman A dan makanan B. 

Harga Makanan A Rp20.000 dengan modal Rp15.000 (keuntungan Rp5.000)
Harga makanan B Rp25.000 dengan modal Rp18.000 (keuntungan Rp7.000)
Total modal untuk minuman A dan makanan B = Rp33.000

Total keuntungan jika dijual terpisah = Rp12.000

Dengan strategi Bundle Pricing, kamu bisa mencoba menurunkan harga jual dengan maksud agar pembeli tertarik membeli kedua produk ini sekaligus. Misalnya dengan menetapkan harga jual paketnya Rp42.500 atau lebih mudah Rp2.500 dibandingkan menjualnya terpisah. 

Keuntunganmu mungkin berkurang dari Rp12.000 menjadi Rp9.500, namun diharapkan dengan cara ini akan lebih banyak pelanggan yang membeli keduanya sekaligus. Akan lebih baik jika kamu memaketkan minuman best seller dengan makanan best seller agar semakin menarik. 

2. Cara menentukan harga jual barang online dengan ongkir

Berjualan secara online tentunya membuatmu memiliki variabel baru yang perlu dipertimbangkan secara keseluruhan. Salah satu yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan harga akhir adalah ongkos kirim. 

Dalam sistem penjualan dan penentuan harga yang sederhana, ongkir akan dibebankan kepada pembeli. Kamu hanya perlu menambahkannya dengan harga jual akhir produkmu. Contoh: 

Sebuah toko pakaian menjual sebuah atasan wanita seharga Rp100.000 dan akan mengirimkannya ke luar kota dengan biaya ekspedisi Rp10.000. 

Harga akhir = harga produk + ongkos kirim

= Rp100.000 + Rp10.000

= Rp110.000

3. Cara menentukan harga jual barang online

Berjualan secara online, kamu tentunya memiliki hal lain untuk dipertimbangkan dalam menentukan harga jual. Misalnya biaya administrasi untuk platform dan biaya iklan untuk promosi secara digital. Jika demikian, kamu perlu memasukkannya ke dalam biaya atau modal dalam rumus menentukan harga jual. Contoh:

Mita memiliki toko online di platform e-commerce di mana setiap transaksi penjual dikenakan biaya 1% dari harga setiap produknya. Minggu ini Mita meluncurkan produk baru yang modalnya Rp80.000 per produk sebanyak 100 buah. Agar penjualannya efektif, Mita memutuskan untuk beriklan di platform dengan biaya Rp100.000 untuk satu bulan. 

Harga jual = biaya + margin keuntungan yang diharapkan

Biaya yang dikeluarkan Mita untuk satu produk:

Harga beli produk: Rp80.000
Biaya promosi: Rp100.000/100 buah = Rp1.000/buah
Biaya platform: belum diketahui 

Total biaya sementara per buah = harga beli produk + biaya promosi
= Rp80.000 + Rp1.000
= Rp81.000

Dengan ini Mita sudah dapat menentukan harga jual dengan menjumlahkan biaya sementara di atas dengan keuntungan kotor yang diinginkan. Misalnya, mita menetapkan keuntungan keuntungan kotor Rp15.000 untuk setiap produknya. 

Harga jual sementara = biaya total sementara + keuntungan yang diharapkan
= Rp81.000 + Rp15.000
= Rp 96.000

Sampai di sini dapat dicari biaya platform secara kasar yaitu 1% x Rp96.000 = Rp960

Jika Mita menjual produk seharga Rp96.000, maka biaya platform akan dikurangi dari keuntungan kasarnya. 

Dalam situasi ini lah strategi menentukan harga barang diperlukan. Katakanlah Mita menggunakan strategi Competitive Pricing, dengan demikian Mita bisa mempertimbangkan hal berikut:

  1. Menaikkan harga akhir dengan pertimbangan kompetitor dengan produk serupa serta reputasi toko. Pelanggan tentunya lebih tertarik dengan harga yang lebih murah atau reputasi toko yang lebih baik. 
  2. Menurunkan harga sedikit di bawah kompetitor agar produk lebih bersaing dengan pertimbangan keuntungan yang didapat mungkin berkurang.

4. Cara menentukan harga jual produk bagi reseller

Jika kamu adalah seorang reseller, tidak banyak hal yang perlu kamu pertimbangkan dalam menentukan harga jual. Hal ini karena kamu telah membeli satu produk utuh tanpa biaya produksi, sehingga kamu hanya perlu menetapkan keuntungan yang ingin kamu dapatkan. 

Meski demikian, kamu tetap harus menggunakan strategi dengan mempertimbangkan daya beli, harga produk di pasaran, kompetitor, dan lain-lain.

Misalnya kamu ingin menjadi reseller produk hijab yang kamu beli seharga Rp18.000. Jika kamu menetapkan keuntungan kotor Rp5.000, kamu bisa menjualnya dengan harga Rp23.000. Jika harga pasaran jilbab tersebut ternyata Rp22.000, maka berarti kamu tidak bisa mendapatkan keuntungan sebanyak yang diinginkan. 

Strategi yang bisa kamu terapkan adalah dengan mencari supplier lain yang menawarkan harga lebih murah sehingga keuntungan bisa dimaksimalkan. 

Nah, demikianlah penjelasan mengenai cara menghitung harga jual, beberapa strateginya, serta contoh kasus. Semoga bisa memberimu bisa membantu bagi kamu yang saat ini sedang memperjuangkan bisnis atau usaha milik sendiri. 

Soal Studi Kasus



CONTOH PERHITUNGAN HARGA JUAL DAN BREAK EVENT POINT


 REKAP TUGAS STRATEGI PEENTUAN HARGA


Digital Branding & Seni Logo: Membangun "Wajah" di Dunia Maya

Materi Ajar Bisnis Digital - Kelas 11 SMK

Selamat datang di era di mana "siapa Anda di internet" jauh lebih penting daripada sekadar "apa yang Anda jual". Pernahkah kalian bertanya-tanya mengapa kita lebih memilih beli kopi berlogo duyung hijau daripada kopi pinggir jalan, padahal harganya beda jauh? Jawabannya bukan cuma soal rasa, tapi soal Branding.

 

Bagian 1: Memahami Digital Branding

Apa Itu Digital Branding?

Kalau dulu branding hanya soal pasang papan reklame besar di jalan raya, sekarang branding berpindah ke layar ponsel kalian. Digital branding adalah proses membangun dan membentuk brand secara online melalui website, aplikasi, media sosial, dan video.

Menurut Neumeier (2006) dalam bukunya The Brand Gap, brand bukanlah logo. Brand bukanlah produk. Brand adalah gut feeling atau perasaan mendalam seseorang tentang sebuah produk, layanan, atau organisasi. Jadi, digital branding adalah upaya kita mengelola "perasaan" orang lain saat mereka melihat kita di internet.

Mengapa Harus Digital?

Seorang pakar pemasaran dunia, Seth Godin, pernah berkata: "Marketing is no longer about the stuff that you make, but about the stories you tell."

Di dunia digital, kalian tidak hanya berjualan barang. Kalian sedang bercerita. Kenapa digital branding itu wajib?

  1. Jangkauan Tanpa Batas: Toko fisik kalian mungkin di desa, tapi pembelinya bisa dari London.
  2. Interaksi Dua Arah: Kalian bisa langsung ngobrol dengan pelanggan lewat DM atau kolom komentar.
  3. Data Terukur: Kalian tahu persis siapa yang melihat konten kalian, umur berapa mereka, dan apa hobi mereka.

Unsur Utama Digital Branding

Untuk membangun branding yang kuat, kalian butuh beberapa "bahan baku" berikut:

  • Logo: Identitas visual utama.
  • Website: "Rumah" resmi kalian di internet.
  • Messaging: Gaya bahasa yang digunakan. Apakah kalian ingin terlihat formal, atau santai seperti "Kakak-Adik"?
  • Social Media: Tempat kalian bersosialisasi dan pamer karya.
  • SEO (Search Engine Optimization): Agar brand kalian muncul di halaman pertama Google saat orang mencari.

 

Bagian 2: Memahami Logo secara Online

Apa Itu Logo?

Banyak orang salah kaprah menganggap logo adalah brand. Padahal, menurut David Airey, seorang desainer grafis ternama, "Logo adalah titik fokus dari sebuah brand yang membantu orang mengenali, membedakan, dan mengingat sebuah bisnis."

Bayangkan logo adalah wajah. Kalian mengenali teman kalian dari wajahnya, bukan? Tapi kepribadian teman kalian itulah yang disebut brand.

Jenis-Jenis Logo yang Hits di Dunia Digital

Siswa sekalian, tidak semua logo itu berbentuk gambar. Ada beberapa jenis logo yang harus kalian pahami:

  1. Wordmark (Logotype): Fokus pada nama perusahaan dengan font yang unik. Contoh: Google, Coca-Cola, Netflix.
  2. Pictorial Mark (Logo Simbol): Menggunakan ikon atau grafis. Contoh: Apple (apel kroak), Twitter (burung).
  3. Abstract Logo Mark: Bentuk geometris abstrak yang punya makna filosofis. Contoh: Nike (Swoosh), Adidas.
  4. Mascot Logo: Melibatkan karakter yang menjadi "wajah" brand. Contoh: KFC (Colonel Sanders).
  5. Combination Mark: Gabungan tulisan dan gambar. Contoh: Burger King, Doritos.

Prinsip Logo yang "Digital-Friendly"

Membuat logo untuk dicetak di spanduk berbeda dengan membuat logo untuk profil Instagram yang kecil. Pakar desain Paul Rand menekankan bahwa sebuah logo haruslah Simple, Memorable, dan Timeless.

Di dunia digital, logo kalian harus:

  • Scalable: Tetap jelas meskipun ukurannya sekecil ikon notifikasi di HP.
  • Responsive: Bisa berubah bentuk sesuai perangkat (HP, Laptop, atau Smartwatch).
  • Warna yang Konsisten: Gunakan kode warna (seperti HEX Code) agar warna logo di layar Samsung dan iPhone tidak terlihat meleset jauh.

 

Bagian 3: Studi Kasus Nyata (Relevan & Viral)

Mari kita bedah dua contoh nyata agar kalian lebih paham.

1. Gojek: Evolusi Logo dan Rebranding

Ingat logo Gojek yang lama? Gambar orang naik motor dengan sinyal Wi-Fi di atasnya. Sangat jelas, kan? Tapi seiring berkembangnya teknologi, Gojek bukan lagi sekadar aplikasi ojek. Ada Gofood, Gomart, hingga Goclean.

Solusinya? Gojek mengubah logonya menjadi "Solv" (lingkaran dengan titik di tengah).

  • Secara Digital Branding: Mereka ingin dikesankan sebagai "One-stop solution" untuk segala masalah.
  • Secara Logo: Bentuknya sangat sederhana. Mudah dikenali di layar HP yang penuh aplikasi, dan bentuk bulatnya fleksibel untuk dijadikan ikon apa saja.

2. Erigo: Menembus New York Fashion Week

Erigo adalah brand lokal Indonesia yang sangat sukses melakukan digital branding. Mereka tidak punya banyak toko fisik di awal, tapi branding mereka di Instagram sangat kuat.

  • Strateginya: Mereka menggandeng banyak influencer muda untuk menciptakan kesan bahwa Erigo adalah lifestyle anak muda yang keren dan hobi traveling.
  • Logonya: Sederhana, tipografi yang tegas, sangat mudah ditempel di berbagai jenis pakaian dan terlihat menonjol saat difoto untuk konten media sosial.

 

Bagian 4: Langkah Memulai Digital Branding untuk Pemula

Kalian sebagai siswa SMK Bisnis Digital tidak perlu modal jutaan untuk mulai. Kalian bisa mulai dari:

  1. Tentukan Niche (Ceruk): Siapa target kalian? Anak senja? Gamers? Atau ibu-ibu muda?
  2. Tentukan "Brand Voice": Apakah kalian ingin bicara dengan gaya bahasa "Lo-Gue", "Saya-Anda", atau "Kak-Sis"?
  3. Gunakan Tools Gratis: Pakailah Canva untuk desain awal, CapCut untuk video, dan ChatGPT untuk riset ide konten.
  4. Konsistensi adalah Kunci: Branding tidak jadi dalam semalam. Postingan yang konsisten jauh lebih baik daripada satu postingan viral tapi setelah itu menghilang.

 

Bagian 5: Mengapa Siswa SMK Harus Paham Ini?

Dunia kerja saat ini tidak hanya mencari orang yang jago jualan, tapi orang yang paham Content Creation dan Data Analytics. Dengan memahami digital branding, kalian punya modal untuk:

  • Menjadi Social Media Specialist.
  • Membangun bisnis online sendiri (Entrepreneur).
  • Menjadi Graphic Designer yang paham strategi bisnis.

 

Kesimpulan Materi

Digital branding adalah tentang bagaimana kita menceritakan nilai-nilai kita kepada dunia melalui teknologi. Sedangkan logo adalah tanda tangan visual yang memastikan orang tidak salah mengenali siapa kita di tengah jutaan informasi yang berseliweran di internet.

Sebagai penutup materi hari ini, Bapak ingin kalian merenungkan hal ini: Di dunia digital, kalian adalah apa yang kalian posting. Jadi, mulailah membangun branding yang positif, jujur, dan berdampak.

 

"Your brand is what other people say about you when you're not in the room. In the digital world, your brand is what the world says about you when you're not online." 

— Jeff Bezos, Founder of Amazon

 

Powered by Blogger.