Results for BEST PARCTICE

Perlindungan Profesi Guru

Perlindungan Profesi Guru

Artikel untuk kegiatan Bimtek Perlindungan Profesi Guru
Oleh : Fajar Efendi Daulay, S.Pd, M.Pd
Guru Produktif SMKN 7 Medan

UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 menyebutkan "Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, dan keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara ".

Terkait dengan tujuan pendidikan sebagaimana terungkap di atas yakni untuk mengembangkan potensi kognitif, sikap dan keterampilan peserta didik maka pendidik/tenaga kependidikan mempunyai tanggung jawab untuk membimbing, mengajar dan melatih murid atas dasar norma-norma yang berlaku baik norma agama, adat, hukum, ilmu dan kebiasaan-kebiasaan yang baik. Agar terwujudnya tujuan itu perlu ditanamkan sikap disiplin, tanggung jawab, berani mawas diri, beriman dan lain-lain. Hukuman pun sering diterima siswa manakala mereka melanggar tata tertib yang telah disepakati. Hukuman itu dimaksudkan sebagai upaya mendisiplinkan siswa terhadap peraturan yang berlaku. Sebab, dengan sadar pendidik memegang prinsip bahwa disiplin itu merupakan kunci sukses hari depan.

Namun dalam upaya meningkatkan disiplin dan potensi siswa, guru sering kali menerapkan hukuman kepada siswa yang justru menjeratnya kedalam kasus hukum. Berbagai kasus yang menjerat guru dalam upaya mendisiplinkan siswa yang berujung kepada dipenjarakannya guru tersebut adalah sebagai berikut :
  1. Rahman, Guru SD di Banyuwangi, Jawa Timur diadili karena pukul muridnya pakai penggaris.
  2. Aop Saopudin, seorang guru honorer SDN Penjalin Kidul V, Majalengka, Jawa Barat harus berurusan dengan hukum hanya gara-gara mencukur rambut murid didiknya.
  3. Nurmayani Guru biologi SMPN 1 Bantaeng, Sulawesi Selatan, dipenjara karena mencubit murid didiknya.
  4. Muhammad Arsal guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 3 Bantaeng masuk penjara akibat menghukum muridnya. 
Banyaknya kasus guru yang terjerat kasus hukum dalam upaya meningkatkan disiplin dan potensi siswa, membuat guru bersifat apatis. Guru menjadi takut untuk bertindak apabila melihat indisipliner yang dilakukan oleh siswa. Mereka beranggapan bahwa siswa itu bukan anak kandungnya sehingga tidak perlu repot - repot untuk mendidiknya. Apabila anak tersebut dihukum, maka saya akan masuk penjara. Inilah pemikiran yang berkembang di antara guru.

Apabila kondisi ini dibiarkan, maka bisa dibayangkan bagaimana moral peserta didik kita nantinya. Oleh karena itu dibutuhkan perlindungan profesi bagi guru agar mereka dalam menjalankan aktivitas dalam mendidik dapat terlindungi. Alternatif solusi yang penulis tawarkan adalah :
  1. Membentuk peraturan bersama 3 menteri, yaitu Kementerian Hukum dan Ham, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara tentang perlindungan profesi guru. Inti dari peraturan ini adalah bahwa guru tidak bisa dituntut dalam upaya mendidik siswa tanpa melalui proses mediasi. Selain itu, guru tidak dapat dituntut apabila melakukan tindakan yang ringan seperti menampar, memukul, mencubit siswa yang sifatnya tidak membahayakan siswa tersebut.
  2. Membentuk Lembaga Mediasi dan Bantuan Hukum khusus untuk guru.
  3. Melakukan Bimbingan Teknis (BIMTEK) tentang perlindungan profesi guru melalui forum MGMP.
  4. Optimalisasi peran BK sebagai mediator antara guru dan orang tua siswa.
  5. Optimalisasi peran sekolah dalam hal ini diwakili oleh wali kelas dalam menjalin silaturahmi dengan orang tua siswa.

UPDATE

Yang terbaru, keluarnya Surat Keputusan Dirjen GTK (Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan) tentang Petunjuk Teknis Perlindungan Pendidik dan Tenaga Kependidikan adalah pedoman yang dikeluarkan untuk melindungi pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) dalam menjalankan tugas-tugasnya. Tujuan utama dari surat keputusan ini adalah memberikan jaminan keamanan, kenyamanan, serta kepastian hukum bagi guru dan tenaga kependidikan dalam menjalankan profesinya.

Isi Penting dalam Surat Keputusan Tersebut:

Perlindungan Hukum:

Pendidik dan tenaga kependidikan dijamin mendapatkan perlindungan dari aspek hukum terkait pelaksanaan tugas profesinya, terutama dalam menghadapi tuntutan hukum yang berkaitan dengan kebijakan pendidikan dan proses pembelajaran. Pemerintah menyediakan dukungan hukum bagi guru dan tenaga kependidikan yang menghadapi masalah hukum dalam konteks tugasnya, baik sebagai saksi, korban, maupun terdakwa.

Perlindungan Fisik dan Mental:

Surat keputusan ini juga memberikan jaminan perlindungan terhadap ancaman fisik dan mental yang mungkin dihadapi oleh PTK selama menjalankan tugas, seperti kekerasan fisik, intimidasi, maupun pelecehan. Pengaturan mekanisme penanganan jika PTK mengalami kekerasan fisik maupun psikologis di lingkungan kerja, baik dari siswa, orang tua, atau pihak lain.

Perlindungan Profesi:

PTK diberikan perlindungan dalam hal hak-hak profesionalnya, termasuk hak untuk memperoleh upah yang layak, lingkungan kerja yang aman, serta hak untuk mengembangkan kompetensi melalui pelatihan atau pendidikan lanjutan. Surat keputusan ini menjamin bahwa PTK tidak akan menghadapi diskriminasi atau tindakan tidak adil dalam lingkup profesional.

Mekanisme Pengaduan:

Disediakan prosedur resmi bagi pendidik dan tenaga kependidikan untuk melaporkan masalah yang berkaitan dengan pelanggaran hak, ancaman, atau kekerasan yang mereka alami saat menjalankan tugas. Pengaduan dapat diajukan melalui mekanisme yang telah ditetapkan oleh instansi terkait di tingkat sekolah, dinas pendidikan, maupun langsung ke pemerintah pusat.

Sanksi dan Tindakan:

Ditentukan pula sanksi bagi pihak-pihak yang terbukti melakukan tindakan yang melanggar hak atau mengancam keselamatan pendidik dan tenaga kependidikan. Tindakan preventif dan represif juga diatur untuk menjaga agar lingkungan pendidikan tetap aman bagi PTK.

Tujuan Utama:

Petunjuk teknis ini bertujuan untuk memastikan bahwa guru dan tenaga kependidikan dapat bekerja dalam suasana yang aman dan nyaman, sehingga mereka dapat fokus dalam menjalankan tugas mendidik siswa dengan optimal. Ini juga mendorong penghargaan yang lebih tinggi terhadap profesi guru dan tenaga kependidikan.

Implementasi:

Implementasi dari surat keputusan ini melibatkan pihak sekolah, dinas pendidikan, serta pemerintah pusat untuk memastikan bahwa perlindungan bagi PTK dijalankan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan. Dukungan dari lembaga hukum dan kesehatan mental juga disiapkan sebagai bagian dari perlindungan menyeluruh bagi PTK. Dengan adanya petunjuk teknis ini, pendidik dan tenaga kependidikan diharapkan dapat menjalankan tugasnya dengan tenang dan profesional tanpa khawatir terhadap risiko-risiko yang mungkin muncul selama pelaksanaan tugas.

Selengkapnya Surat Keputusan tersebut dapat di download di bawah ini.

SK DIRJEN GTK NO 3798 TAHUN 2024 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PERLINDUNGAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

Semoga solusi alternatif yang penulis sampaikan dapat bermanfaat kepada penulis dan para pembaca.


Semoga solusi alternatif yang penulis sampaikan dapat bermanfaat kepada penulis dan para pembaca.

Menjadi Seorang Pemenang Olimpiade Guru Nasional


Olimpiade Guru Nasional (OGN) merupakan wahana bagi guru SMA/SMK/SMALB untuk menumbuhkembangkan semangat kompetisi akademik dan memotivasi guru SMA/SMK/SMALB dalam rangka peningkatan kompetensi agar mampu meningkatkan mutu pendidikan. 

Mata pelajaran yang dilombakan dalam Olimpiade Guru Nasional (OGN) pada tahun 2018 adalah Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa Inggris, Bimbingan dan Konseling, Seni Budaya, Antropologi, Prakarya dan Kewirausahaan, dan Matematika untuk guru SMA/SMK/SMALB.

Olimpiade Guru Nasional (OGN) Tahun 2018 dilaksanakan pada tanggal 3 Mei s.d. 7 Mei 2018 di Mataram Nusa Tenggara Barat. Khusus mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan SMA/SMK/SMALB diperoleh hasil sebagai berikut : Pemenang I dimenangkan oleh Yunis Eka Putra dari SMA Negeri 12 Sijunjung Provinsi Sumatera Barat; Pemenang II dimenangkan oleh Dian Isyarini Pemiluwati, SP, MP dari SMK PP Negeri 1 Tegalampel Provinsi Jawa Timur dan Pemenang III dimenangkan oleh Fajar Efendi Daulay, S.Pd, M.Pd dari SMK Negeri 1 Tebing Tinggi Provinsi Sumatera Utara.


Perjuangan untuk memperoleh pemenang III tidak mudah. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor antara lain sebagai berikut :
  1. Penulis bukanlah guru Mata Pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan. Kondisi ini sungguh menyulitkan karena penulis tidak mengetahui secara pasti silabus mana yang digunakan di kurikulum 2013 edisi revisi. Selain itu, penulis tidak mengetahui secara detail tentang materi Mata Pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan tersebut.
  2. Penulis mendapatkan tugas belajar mulai dari tahun 2015 s.d. tahun 2017.Sejak terpilih menjadi penerima beasiswa S2 AP Kepengawasan di UNIMED. Penulis tidak mengajar selama dua tahun sejak tahun 2015 sampai dengan tahun 2017. Kondisi ini mempersulit penulis dalam hal praktik mengajar.
  3. Penulis belum pernah mengikuti diklat Kurikulum 2013.Perubahan kurikulum dari Kurikulum KTSP menjadi Kurikulum 2013 membawa perubahan yang sangat siginifikan dalam hal proses pembelajaran yaitu perubahan dari Teacher Centered menjadi Students Centered. Perubahan ini berdampak pada perubahan perangkat pembelajaran. Kondisi ini mempersulit penulis dalam menyusun perangkat pembelajaran.
Bersama Pemenang I, Yunis Eka Putra

OGN Mata Pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan merupakan kumpulan dari beberapa juara nasional. Munculnya nama-nama seperti Itok peraih medali emas dari Jawa Timur, Yunis Eka Putra peraih medali emas dari Sumatera Barat dan banyak nama-nama lainnya yang sudah malang-melintang di dunia OGN bergabung di OGN Mata Pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan sempat membuat penulis jatuh mental.

Persiapan OGN

Selama masa persiapan, penulis lebih banyak berdiskusi dengan sesama finalis OGN Mata Pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan. Tidak adanya silabus, RPP dan buku Prakarya dan Kewirausahaan menyebabkan penulis lebih aktif dalam diskusi. Diskusi dilakukan dengan Mr. Itok, Yunis, Juni dan beberapa finalis lainnya sehingga penulis mendapatkan gambaran tentang mata pelajaran tersebut.

Selain itu, penulis juga harus mempersiapkan alat peraga yang akan digunakan ketika praktik mengajar dilaksanakan. Adanya bidang-bidang sepserti rekaya, pengolahan, kerajinan dan budi daya membuat penulis sangat kebingungan. Namun, sebuah ide mucul ketika anak pertama sedang bermain kotak sebuah makanan. Maka penulis putuskan untuk menjadikan kotak kemasan sebagai alat peraga ketika ujian OGN berlangsung.

Ujian OGN


Ujian dilaksanakan pada tanggal 3 Mei 2018 pukul 14.00 WIT. Ujian yang pertama dilaksanakan adalah ujian tentang wawasan kependidikan dan diikuti dengan ujian kompetensi professional. Ujian wawasan kependidikan dilakukan dengan tes on line. Penulis memperoleh nilai 61 untuk tes wawasan kependidikan. Sedikit kritik tentang soal wawasan kependidikan adalah peraturan-peraturan yang ditanyakan adalah peraturan-peraturan yang sudah lama seperti peraturan tentang angka kredit guru, Standar Nasional Pendidikan.

Ujian kompetensi professional dilakukan dengan tes tertulis dalam bentuk essay. Penulis sengaja memilih soal-soal kategori sulit untuk dikerjakan. Pengalaman penulis sebagai guru pemasaran cukup membantu dalam mengerjakan soal-soal essay seperti menyusun bussines plan, pelayan purna jual.

Keesokan harinya, tanggal 4 Mei 2018 dilaksanakan ujian penyusunan perangkat pembelajaran dan praktik mengajar. Semua kontestan menampilkan kemampuan terbaiknya. Penulis mendapat kesempatan praktik mengajar di hari berikutnya.

Alat Peragaku Sayang Alat Peragaku Malang

Setiap peserta harus mengajar dengan alat peraga yang telah dibuatnya. Berbagai macam alat peraga ditampilkan, mulai dari kerajinan tangan seperti membuat vas bunga, rumah-rumahan, tas, bunga dari kulit kerang. Pengolahan seperti membuat empek-empek, wedang jahe, es krim. Produk-produk tersebut sangat diburu oleh dewan juri dan panitia. 

Sementara itu, alat peraga yang penulis tampilkan tak sedikitpun dicari bahkan ditanya oleh dewan juri dan panitia. Kondisi ini membuat penulis down sampai ke titik nadir. Dengan berat hati penulis letakkan di bawah meja dan masukkan ke dalam tas. Namun, tanggapan positif dari teman-teman atas alat peraga yang penulis gunakan sebagai obat pelipur lara.

Optimisme Membawaku Mendekati Nya

Berangkat ke Mataram dengan optimisme tinggi. Penulis memasang target juara I meski penulis menyadari sangan di mata pelajaran ini sangat tidak mudah. Penulis menyadari bahwa selain usaha maksaimal maka kita harus berdoa dan mendekati Nya secara maksimal pula. Tahajud, sedekah, shalat tepat waktu di gas dengan kecepatan tinggi. Beroda hingga air membasahi pipi. 

Dengan kesemuanya itu, penulis masih yakin untuk juara I. Namun di malam terakhir sebelum pengumuman, ada kejadian unik yang penulis alami. Ketika meminta kepada Nya untuk juara I, namun yang tertanam dibenak punulis adalah juara III. Semenjak itu penulis tersadar bahwa apa yang diinginkan belum tentu terbaik bagi penulis namun apa yang dikasih oleh Nya pastilah terbaik buat punulis.

Buat Finalis tahun berikutnya

Siapapun anda, dimanapun anda berada. Juara nasional tidak akan dapat diraih tanpa usaha yang maksimal. Paksakan diri anda untuk melampaui batas maksimal tersebut. Perbanyak diskusi dan latihan. 

Selain itu, jangan lupa anda tidak ada apa-apanya tanpa Nya. Sehingga ketika anda berhasil menjadi pemenang, jangan lupa anda masih tetap tidak ada apa-apanya tanpa Nya. Ingat, buang dalam benakmu bahwa ilmu itu mahal sehingga anda bagai katak dalam tempurung. Namun, tanamkan bahwa ilmu itu adalah amal sehingga anda bagai jendela dunia.

BLANDED LEARNING: PEMANFAATAN GOOGLE SITES PADA MATA PELAJARAN BISNIS ONLINE


BLANDED LEARNING: PEMANFAATAN GOOGLE SITES PADA MATA PELAJARAN BISNIS ONLINE

Oleh: Fajar Efendi Daulay, S.Pd., M.Pd
Best Practice Ini Dibuat Dalam Rangka Lomba Guru Berprestasi
Tingkat Provinsi dan Nasional Tahun 2019
Provinsi Sumatera Utara


BAB I 
PENDAHULUAN 


1.  Latar Belakang

Pembelajaran 4.0 merupakan respon dari revolusi industri 4.0 dimana manusia dan teknologi diselaraskan pada kegiatan belajar mengajar. SEAMOLEC (2009) menjelaskan bahwa pembelajaran 4.0 merujuk kepada 9 tren, yaitu:  (1) pembelajaran dapat dilaksanakan dimana dan kapan saja; (2) pembelajaran dilaksanakan secara personal; (3) peserta didik memiliki kesempatan dalam menentukan materi yang akan dipelajari; (4) pembelajaran berbasis proyek; (5) pembelajaran langsung melalui pengalaman lapangan seperti magang, bimbingan proyek dan proyek; (6) pembelajaran berupa aplikasi praktek; (7) pembelajaran dievaluasi bukan diuji; (8) pembelajaraan modular; (9) kepemilikan pembelajaran oleh siswa.

Berdasarkan tren tersebut, kegiatan pembelajaran 4.0 mengalami evolusi kearah pembelajaran digital yang dapat menciptakan pembelajaran yang lebik kreatif, partisipatif, beragam, dan menyeluruh. Munir (2012) menjelaskan bahwa pembelajaran digital merupakan suatu sistem yang dapat memfasilitasi pembelajar belajar lebih luas, lebih banyak, dan bervariasi. Melalui fasilitas yang disediakan oleh sistem tersebut, pembelajar dapat belajar kapan dan dimana saja tanpa terbatas oleh jarak, ruang dan waktu. Materi pembelajaran yang dipelajari lebih bervariasi, tidak hanya dalam bentuk verbal, melainkan lebih bervariasi seperti teks, visual, audio, dan gerak.

Pembelajaran digital dapat dilakukan dengan cara mengombinasikan pembelajaran berbasis tatap muka dengan sumber ilmu pengetahuan dan teknologi yang bersifat offline maupun online. Hal ini yang disebut dengan pembelajaran berbasis blanded learning. Menurut Semler (2005) “Blended learning combines the best aspects of online learning, structured face-to-face activities, and real-world practice”. Maknanya bahwa blended learning merupakan kombinasi aspek terbaik dari pembelajaran online, pembelajaran tatap muka dan pengalaman di dunia nyata.

Berdasarkan pengertian di atas, blended learning memiliki dua kategori utama, yaitu; (1) peningkatan bentuk aktivitas tatap-muka, yaitu penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam aktivitas tatap-muka, baik dalam bentuknya yang memanfaatkan internet (web-dependent) maupun sebagai pelengkap (web-supplemented) yang tidak merubah model aktivitas, (2) pembelajaran yang mengurangi aktivitas tatap-muka tapi tidak menghilangkannya, sehingga memungkinkan peserta didik untuk belajar secara online. Jadi blended learning yang dibahas dalam best practice ini adalah pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi berbasis web untuk menunjang peningkatan kualitas pembelajaran yang dilakukan di kelas.

Salah satu teknologi informasi dan komunikasi berbasis web adalah Google Sites. Wikipedia (2018) menjelaskan bahwa Google Sites adalah aplikasi wiki terstruktur untuk membuat situs web pribadi maupun kelompok, untuk keperluan personal maupun korporat. Selanjutnya Harsanto (2012) menjelaskan bahwa Google Sites adalah salah satu produk dari google sebagai tools untuk membuat situs. Adapun alasan pemilihan Google Sites adalah karena ia mudah digunakan dan dikelola oleh pengguna awam.

2.  Fokus Best Practice

        Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi fokus pada best practice ini adalah: Bagaimana pemanfaatan Google Sites dalam pembelajaran bisnis online kelas 11 BDDP 1 SMK Negeri 7 Medan?

 3. Tujuan

         Berdasarkan latar belakang dan fokus best practice, maka yang menjadi tujuan pada best practice ini adalah: untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan Google Sites dalam pembelajaran bisnis online kelas 11 BDDP 1 SMK Negeri 7 Medan.

 4. Manfaat

            Adapun yang menjadi manfaat dari best practice ini adalah sebagai berikut: 

1.     Manfaat teoretik

a)  Menambah khasanah keilmuan, khususnya mengkaji alternatif pembelajaran blende learning dengan menggunakan Google Sites pada mata pelajaran bisnis online di Sekolah Menengah Kejuruan.

b) Menjadi acuan dalam best practice selanjutnya, khususnya sebagai pedoman dalam mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan pembelajaran blended learning dengan menggunakan Google Sites pada mata pelajaran bisnis online di Sekolah Menengah Kejuruan.

2.     Manfaat praktis

a)    Manfaat bagi peserta didik,

Blended learning dengan menggunakan Google Sites dapat membekali peserta didik menjadi pemikir yang handal dan pembelajar yang mandiri. Blended learning dengan menggunakan Google Sites dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran di SMK, dan meningkatkan kemampuan belajar serta memberikan kemudahan kepada peserta didik dalam menguasai materi ajar, khususnya pada mata pelajaran bisnis online.

b)   Manfaat bagi Pendidik

Blended learning dengan menggunakan Google Sites dapat mempermudah guru untuk melakukan pemutakhiran bahan ajar sesuai dengan perkembangan keilmuan yang terjadi.

c)    Manfaat bagi sekolah,

Blended learning dengan menggunakan Google Sites dapat menciptakan pembelajaran yang praktis dan efektif, sehingga meningkatkan kualitas lulusan.


BAB II

PELAKSANAAN


1.  Deskripsi dan Ruang Lingkup Best Practice

Pembelajaran blended learning dengan memanfaatkan Google Sites pada mata pelajaran bisnis online adalah pembelajaran yang menggabungkan antara pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran e-learning pada mata pelajaran bisnis online. Google Sites  sebagai media pembelajaran e-learning berbasis web dapat di akses melalui alamat https://sites.google.com/view/bisnisonlinesmkn7medan yang mempunyai menu utama, yaitu: beranda, materi 1, materi 2, materi 3, materi 4, materi 5, materi 6, materi 7, materi 8, materi 9 dan materi 10.

            Isi dari setiap menu yang ada di web adalah sebagai berikut:

Tabel 2.1 Isi dari Masing-masing Menu

No

Menu

Isi

1

Beranda

Kompetensi Dasar:

KD 3.10 Menerapkan Iklan PPC menggunakan Google Adwords

KD 4.10 Membuat Iklan PPC menggunakan Google Adwords

Judul per materi

2

Materi 1

Konsep dasar iklan PPC

3

Materi 2

Jenis-jenis iklan PPC

4

Materi 3

Alasan penggunaan PPC

5

Materi 4

Optimasi cara memantau kinerja PPC

6

Materi 5

Konsep Google AdWords

7

Materi 6

Manfaat menggunakan Google AdWords

8

Materi 7

Cara Kerja Iklan PPC Google Adwords

9

Materi 8

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menjalankan Iklan PPC menggunakan Google Adwords

10

Materi 9

Mendemonstrasikan cara membuat Iklan PPC menggunakan Google Adwords

11

Materi 10

Membuat Iklan PPC menggunakan Google AdWords


Berdasarkan silabus bisnis online, alokasi waktu untuk KD 3.10 Menerapkan Iklan PPC menggunakan Google Adwords dan KD 4.10 Membuat Iklan PPC menggunakan Google Adwords adalah 35 jam pelajaran atau 5 pertemuan. Pelaksanaan pembelajaran blended learning ini terdiri dari 60% atau sebanyak 3 pertemuan tatap muka dan 40% atau sebanyak 2 pertemuan secara online.

Pembelajaran secara online di mulai dari group telegram https://t.me/kelasnyaanakpm. Group ini merupakan ruang diskusi bagi peserta didik selama pembelajaran berlangsung. Selain itu, group ini juga mempunyai sebuah BOT sebagai sumber informasi tentang pelaksanaan pembelajaran dan juga berfungsi sebagai update informasi dari website www.fajardaulay.com. Selanjutnya, setiap peserta didik yang telah mengikuti pembelajaran secara online ini diharuskan untuk mengisi daftar hadir pada link http://bit.ly/AbsensiPPC. Setelah peserta didik menyelesaikan setiap tugas, maka mereka harus mengumpulkan tugas di kantong pengumpulan tugas pada link berikut: http://bit.ly/KantongTugasPPC. Selain tugas, peserta didik juga harus mengerjakan soal-soal yang ada di web. Soal-soal tersebut di buat dengan mnggunakan google form.

 2.  Langkah-langkah Pelaksanaan Best Practice

            Pembelajaran blended learning dengan bantuan Google Sites adalah pembelajaran campuran antara tatap muka dengan online. Pembelajaran ini terdiri dari dua pembelajaran utama yaitu pembelajaran secara tatap muka dan pembelajaran secara online atau e-learning. Kedua pembelajaran tersebut dijelaskan berdasarkan langkah-langkah pada Tebel 2.2

Tabel 2.2 Sintaks Pembelajaran Blended Learning dengan Bantuan Google Sites

Fase Pembelajaran

Aktivitas

Pendidik

Peserta Didik (PD)

Klassikal

Pra Pembelajaran

Menyiapkan dan memotivasi belajar untuk mengikuti proses pembelajaran

Merapikan kelas, memberi, salam dan menyimak manfaat materi yang akan diperlajari

Menyampaikan tujuan pembelajaran dan cakupan materi

Membaca dan memahami tujuan pembelajaran & cakupan materi

Menyiapkan Pretes

Melakukan pretes

Membagi kelompok secara heterogen

Berkelompok sesuai arahan pendidik

 

Fase I :

Mengamati

Menayangkan video pembelajaran

Mengamati video pembelajaran

Fase II :

Menanya

Pendidik meminta PD menceritakan pemahamannya mengenai video pembelajaran dan merumuskan masalah

 

Menceritakan pemahamannya mengenai video pembelajaran dan merumuskan masalah

Fase III

Mengeksplorasi

Membimbing PD untuk mempelajari materi melalui buku paket.

Mempelajari materi melalui Buku paket 

Membimbing PD dalam diskusi kelompok

Memperdalam materi melalui diskusi  kelompok

Fase: IV

Mengkomu-nikasikan

Membimbing PD mempresentasikan hasil percobaan

Mempresentasikan hasil pembelajaran (percobaan)

Fase: V

Mengasosiasi

Membimbing PD mengumpulkan dan menganalisa data hasil percobaan

Mengumpulkan dan menganalisis data hasil percobaan

Pasca

Pembelajaran

Melakukan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pemberian tugas, melalui e-learning

Menyimak bentuk pemberian tugas

Menginformasikan rencana kegiatan pembelajaran untuk pertemuan berikutnya.

Menyimak rencana kegiatan pembelajaran untuk pertemuan berikutnya

E-Learning

Fase I

Mengakses website

Mengakses website

Fase II

Membuat materi pembelajaran/ Menyampaikan Materi pembelajaran

Memilih materi pembelajaran & Menyimak tujuan pembelajaran

Fase III

Menguplod materi pelajaran dan video tutorial

Mempelajari materi dan video tutorial

Fase IV

Memandu PD melakukan diskusi On-line (forum, chatting & streaming)

Memperdalam materi melalui diskusi on-line (forum, chatting & streaming)

Fase V

Memeriksa tugas Peserta Didik

Mengupload tugas

Fase VI

Menyiapkan Post test

Mengerjakan Post test

 3.  Hasil yang Dicapai

Hasil yang dicapai dari pemanfaatan Google Sites pada mata pelajaran bisnis online kelas 11 SMK Negeri 7 Medan adalah sebagai berikut:

a.    Meningkatnya minat dan motivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran yang dapat dilihat dari antusiasme, keaktifan, dan peran serta siswa dalam proses pembelajaran

b.    Meningkatnya keterampilan berkomunikasi (communication) pada siswa kelas 11 SMK Negeri 7 yang dapat dilihat dari keberhasilan berdiskusi merencanakan pembuatan iklan PPC. 

c.       Meningkatnya keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking and problem solving) pada siswa SMK Negeri 7 yang dapat dilihat dari keberhasilan mengatasi berbagai permasalahan saat pembuatan iklan PPC.

d.     Meningkatnya keterampilan berkreasi dan berinovasi (creativity and innovation) pada siswa SMK Negeri 7 yang dapat dilihat dari karya siswa berupa iklan PPC yang ada di blog.

e.       Terciptanya iklan PPC di blog peserta didik.

 4.  Nilai Penting dan Kebaruan Best Practice yang telah dilaksanakan

Nilai penting dan kebaruan best practice ini adalah pemanfaatan google sites dalam blended learning yang sangat jarang digunakan oleh guru. Kebanyakan guru menggunakan Edmodo dan Google Classroom dalam pembelajaran online, padahal Google Sites memiliki beberapa kelebihan antar lain: bisa menambahkan fungsi-fungsi Analytics, Webmasters Tools, dan tentunya Adsense dengan mudah dan praktis. Kita hanya perlu menyalin kode yang disediakan dan menempelkannya pada tempat yang disediakan. Layanan ini akan disimpan pada domain Google.com. Artinya mesin pencari akan lebih mudah mengindeks halaman-halaman web yang kita pasang. Google Sites dapat menggunakan berbagai macam gadget yang disediakan oleh Google maupun yang dibuat oleh berbagai pihak di luar Google. Google Sites menyediakan berbagai tautan untuk informasi yang diperlukan. Namun, penggunaan google sites sebagai media pembelajaran dalam blended learning harus ditambah dengan aplikasi lain seperti telegram, zoho serta google spreedshet yang akan menambah wawasan guru serta peserta didik.

         Google Sites sebagai sumber informasi bagi peserta didik. Google Sites berisi tentang kompetensi dasar, materi pembelajaran baik berupa teks maupun video tutorial dan tugas-tugas yang akan dikerjakan oleh peserta didik. Hal ini sangat penting bagi peserta didik dikarenakan belum adanya buku bisnis online di sekolah. Oleh karena itu, Google Sites ini merupakan suatu alternative bagi guru dalam menyediakan materi ajar.

          Selain Google Sites, pembelajaran ini di bantu oleh Telegram sebagai sarana komunikasi atau forum diskusi bagi siswa. Ada beberapa faktor pendukung pemilihan telegram sebagai media komunikasi dibandingkan dengan Whats App, yaitu: (1) telegram lebih ringan ketika dijalankan karena ukuran aplikasi yang lebih kecil; (2) telegram mengijinkan kita berbagi foto, video, file (doc, zip, mp3, dan lain-lain) dengan ukuran maksimum 1.5 GB per file; (3) Groups pada Telegram memiliki kapasitas 200 orang dan dapat diupgrade menjadi Supergroups dengan kapasitas sampai 1000 orang; (4) fitur Channel pada Telegram. Proses penyiaran (broadcasting) dilakukan dengan benar menggunakan Channel. Channel; (5) fitur Bot pada Telegram. Bot adalah akun yang dijalankan oleh aplikasi (bukan orang).

            Selain Telegram, pembelajaran ini juga dibantu oleh Zoho Form dan Google Spreadsheet. Zoho Form berfungsi sebagai daftar hadir peserta didik. Pengisian daftar hadir ini dilakukan dengan cara mengisi data berupa nama, tanggal, jam serta tanda tangan. Sedangkan Google Spreadsheet berfungsi sebaga tempat pengumpulan tugas. Pengisian tempat pengumpulan tugas ini dilakukan dengan cara memasukkan link dari google drive peserta didik.

 5.  Faktor-Faktor Pendukung dan Penghambat

            Faktor pendukung best practice ini adalah setiap peserta didik telah mempunyai smartphone dan ada beberapa peserta didik yang juga mempunyai laptop. Berdasarkan hasil observasi terhadap smartphone yang digunakan peserta didik diperoleh data    sebagai berikut: 50% peserta didik mempunyai smartphone yang high level, 40% peserta didik mempunyai smartphone yang midle level dan 10% peserta didik mempunyai smartphone yang low level.

Selain faktor pendukung, best practice ini juga mempunyai faktor penghambatnya adalah pertama, tidak meratanya fasilitas yang dimiliki pelajar, seperti komputer dan akses internet. Padahal dalam Blended Learning diperlukan akses internet yang memadai, apabila jaringan kurang memadai akan menyulitkan peserta dalam mengikuti pembelajaran mandiri via online. Kedua, tidak setiap peserta didik memiliki kemampuan dan keterampilan yang sama untuk melakukan kemandirian belajar.

6.  Tindak Lanjut

            Berhasilnya penerapan blended learning dengan memanfaatkan google sites ini memacu penulis untuk mengembangkan ke seluruh kompetensi dasar bisnis online baik di kelas sebelas maupun kelas dua belas. Selain itu, penulis juga berniat untuk menularkan best practice ini kepada guru-guru yang ada di SMK Negeri 7 Medan.

 

 BAB III

SIMPULAN DAN SARAN

 

1.        Simpulan

Adapun yang menjadi kesimpulan dalam best practice ini adalah:

a.    Blended learning dilaksanakan dengan memanfaatkan google sites sebagai media pembelajaran dan dibantu oleh aplikasi telegram sebagai forum diskusi dan kumunikasi.

b.   Meningkatnya minat dan motivasi peserta didik, keterampilan berkomunikasi, keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah serta keterampilan berkreasi dalam mata pelajaran bisnis online

 

2.        Saran

Adapun yang menjadi kesimpulan dalam best practice ini adalah:

a.   Kepala SMK Negeri 7 Medana agar mengadakan pelatihan tentang blended learning dengan memanfaatkan google sites.

b.     Rekan-rekan guru agar menerapkan blended learning dengan memanfaatkan google sites.

DAFTAR PUSTAKA

 

SEAMOLEC. 2019. Program Bantuan Penelitian Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh (PTJJ). https://penelitian.seamolec.org/. Di akses pada tanggal 05 Mei 2019 Pukul 13.00 WIB

Munir. (2012). Multimedia Konsep & Aplikasi dalam Pendidikan. Bandung : Alfabeta.


Semler, S. 2009.Use Blended Learning to Increase Learner Engagement and Reduce Training Cost. (http://www.learningsim.com/content/lsnews/ blended_learning1.html, Di akses pada tanggal 05 Mei 2019 Pukul 13.00 WIB)

 

Harsanto, Budi. 2012. Panduan E-Learning Menggunakan Google Sites. http//:www.elearning.fe.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2012/09/Panduan-E-Learning-Menggunakan-Google-Sites.pdf.  Di akses pada tanggal 05 Mei 2019 Pukul 13.00 WIB

 

Wikipedia. 2019. Google Sites. https://id.wikipedia.org/wiki/Google_Sites. Di akses pada tanggal 05 Mei 2019 Pukul 13.00 WIB


Powered by Blogger.